Sumut Info – Medan, Oktober 2025 — Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, kinerja ekonomi daerah ini pada Triwulan II 2025 menunjukkan dinamika yang menarik. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara, yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menurut pengeluaran (Seri 2010), mencatat angka 4,69 persen secara year-on-year (y-on-y). Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Triwulan I 2025 yang tumbuh 4,67 persen.
Kinerja ini menandakan bahwa ekonomi Sumut masih berada dalam jalur positif, meskipun beberapa komponen pengeluaran mengalami fluktuasi yang signifikan antar-triwulan.
Konsumsi Rumah Tangga Tetap Menjadi Penopang Utama Pertumbuhan
Pada Triwulan II 2025, pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,95 persen, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 5,29 persen pada Triwulan I 2025. Meskipun terjadi perlambatan, komponen ini tetap menjadi kontributor terbesar terhadap PDRB Sumatera Utara.
Peningkatan daya beli masyarakat, dukungan inflasi yang relatif terkendali, serta kegiatan ekonomi menjelang Idulfitri dan masa liburan sekolah turut menjaga laju konsumsi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat Sumut masih tangguh dan berperan besar dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah.
Belanja Pemerintah Mengalami Kontraksi Tajam
Sebaliknya, pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami kontraksi cukup tajam, dari 3,39 persen pada Triwulan I menjadi -4,76 persen di Triwulan II 2025. Penurunan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh keterlambatan realisasi anggaran pada awal tahun fiskal, serta pergeseran belanja modal yang belum optimal terserap hingga pertengahan tahun.
Pelemahan di sektor ini memberikan tekanan terhadap kinerja ekonomi Sumatera Utara, mengingat peran pemerintah dalam mendorong kegiatan ekonomi, khususnya proyek infrastruktur dan pelayanan publik, masih signifikan.
Investasi Tetap Positif namun Melambat
Komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang mencerminkan aktivitas investasi fisik seperti bangunan dan peralatan, tumbuh 0,90 persen, melambat dari 1,23 persen pada Triwulan I. Hal ini menunjukkan bahwa investasi di Sumut masih berjalan, namun belum menunjukkan percepatan yang kuat.
Investor tampaknya masih menunggu kepastian ekonomi nasional dan global, terutama terkait dengan arah kebijakan suku bunga dan permintaan ekspor yang masih berfluktuasi.
Ekspor dan Impor Masih Tumbuh, tapi Cenderung Melemah
Kinerja ekspor Sumatera Utara pada Triwulan II 2025 menunjukkan pelemahan. Ekspor barang dan jasa ke luar negeri tumbuh 17,20 persen, turun tajam dari 27,98 persen di Triwulan I. Sementara itu, impor barang dan jasa mengalami kontraksi -1,31 persen, setelah sebelumnya masih tumbuh tipis 0,03 persen.
Penurunan ekspor ini dapat dikaitkan dengan berkurangnya permintaan global terhadap komoditas utama Sumut seperti kelapa sawit, karet, dan kopi. Namun, kontraksi impor justru membantu menjaga keseimbangan neraca perdagangan daerah, mengindikasikan adanya penurunan aktivitas konsumsi barang impor.
Lembaga Nonprofit Justru Menguat Tajam
Fenomena menarik lainnya terlihat pada pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT). Komponen ini melonjak dari -0,92 persen pada Triwulan I menjadi 6,34 persen pada Triwulan II 2025.
Kenaikan ini bisa disebabkan oleh meningkatnya kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan yang banyak diselenggarakan lembaga swadaya masyarakat dan organisasi sosial di Sumut selama periode ini. Lonjakan LNPRT turut memberi dorongan tambahan bagi pertumbuhan ekonomi, meski porsinya terhadap total PDRB relatif kecil.
Analisis Fenomena Ekonomi Sumatera Utara Triwulan II 2025
- Konsumsi masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, memperlihatkan daya tahan masyarakat terhadap tekanan ekonomi global.
- Kontraksi belanja pemerintah menjadi sinyal kewaspadaan, terutama karena realisasi APBD berperan penting dalam menggerakkan ekonomi lokal.
- Kinerja ekspor melemah seiring melambatnya permintaan komoditas unggulan, namun penurunan impor sedikit menahan tekanan eksternal.
- Investasi belum pulih sepenuhnya, menunjukkan bahwa pelaku usaha masih menahan ekspansi di tengah ketidakpastian global.
- Kegiatan sosial masyarakat meningkat, menandakan geliat ekonomi di tingkat komunitas dan lembaga nonprofit.
Umumnya, ekonomi Sumut pada semester pertama menunjukkan pertumbuhan yang moderat. Pertumbuhan ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, namun perlu waspada terhadap lemahnya sektor pemerintah dan ekspor.

Kesimpulan
Ekonomi Sumatera Utara masih berada di jalur pertumbuhan positif. Realisasi belanja pemerintah, peningkatan investasi, dan penguatan daya saing ekspor menjadi kunci untuk menjaga momentum ekonomi hingga akhir tahun 2025.
Sinergi sektor publik dan swasta, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat, diharapkan mampu menjaga pertumbuhan di atas 5 persen pada Triwulan mendatang.
Sumber: sumut.bps.go.id