Sumut Info – Medan. Sektor pertanian di Provinsi Sumatera Utara diproyeksikan mengalami perkembangan positif pada tahun 2025. Berdasarkan data terbaru, luas panen padi di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara diperkirakan meningkat dari 419.463 hektare pada tahun 2024 menjadi 542.645 hektare pada tahun 2025. Ini berarti terjadi kenaikan sebesar 123.182 hektare atau sekitar 29,37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ini tidak hanya menggambarkan produktivitas pertanian yang semakin baik, tetapi juga menunjukkan hasil dari berbagai upaya pemerintah daerah dan petani dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayah Sumatera Utara.
Daerah dengan Pertumbuhan Tertinggi
Salah satu daerah yang mencuri perhatian adalah Labuhan Batu Selatan, yang mencatat lonjakan luar biasa dari 102 hektare pada 2024 menjadi 788 hektare pada 2025. Kenaikan ini setara dengan 672 persen, menjadikannya daerah dengan perkembangan terbesar di seluruh Sumatera Utara. Lonjakan ini didorong oleh perluasan lahan pertanian dan intensifikasi program penanaman yang dilakukan secara masif.

Selain itu, Padang Lawas juga menunjukkan peningkatan signifikan dengan kenaikan luas panen sebesar 10.316 hektare atau sekitar 90,85 persen. Daerah ini berhasil meningkatkan produksi berkat optimalisasi lahan tidur dan peningkatan infrastruktur irigasi.
Mandailing Natal menunjukkan perkembangan besar lainnya dengan kenaikan 35.048 hektare atau 154,90 persen. Peningkatan ini menempatkan daerah tersebut sebagai salah satu tulang punggung produksi padi di wilayah selatan Sumatera Utara.
Kabupaten/Kota yang Stabil dan Mengalami Penurunan
Meski sebagian besar daerah mengalami peningkatan, terdapat beberapa kabupaten/kota yang diperkirakan mengalami penurunan luas panen. Salah satunya adalah Nias Selatan, yang turun sekitar 16,34 persen, dari 12.680 hektare menjadi 10.608 hektare. Penurunan ini diduga akibat cuaca ekstrem dan berkurangnya lahan yang bisa digunakan untuk pertanian.
Begitu pula dengan Nias Utara, yang mengalami penurunan 40,67 persen. Keterbatasan lahan dan kondisi geografis yang menantang menjadi faktor utama yang disebut memengaruhi penurunan tersebut.
Kota Tebing Tinggi dan Medan juga mengalami penurunan, meskipun angkanya relatif kecil. Untuk kota besar seperti Medan, penurunan ini lebih dipengaruhi oleh terbatasnya ruang untuk perluasan lahan pertanian karena dominasi kawasan perkotaan.
Kontribusi Daerah Penghasil Utama
Sejumlah daerah lain tetap menjadi penyokong utama produksi padi Sumatera Utara. Misalnya:
- Deli Serdang: tetap menjadi salah satu daerah dengan luas panen terbesar, meskipun terjadi penurunan kecil sebesar 238 hektare atau kurang dari 1 persen.
- Serdang Bedagai: mengalami kenaikan dari 51.118 hektare menjadi 55.186 hektare atau naik 7,96 persen.
- Langkat: naik 8.262 hektare atau 33,37 persen, memperkuat posisinya sebagai lumbung padi di kawasan pantai timur.
Peningkatan di kabupaten-kabupaten besar ini memberikan kontribusi besar terhadap total kenaikan luas panen pada tingkat provinsi.
Prospek Pertanian Sumatera Utara 2025
Dengan proyeksi peningkatan luas panen ini, Sumatera Utara diperkirakan mampu meningkatkan ketahanan pangan dan mendongkrak produksi beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemerintah daerah juga menyampaikan bahwa peningkatan ini sejalan dengan program revitalisasi pertanian yang telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir, termasuk:
- perbaikan jaringan irigasi,
- penguatan kelompok tani,
- penggunaan varietas unggul,
- dan peningkatan akses terhadap pupuk serta teknologi pertanian.
Meski demikian, tantangan tetap ada, seperti ancaman cuaca ekstrem, perubahan iklim, dan keterbatasan lahan di beberapa daerah. Namun secara keseluruhan, tren peningkatan luas panen padi di tahun 2025 memberikan harapan bagi petani dan masyarakat luas bahwa sektor pertanian Sumatera Utara sedang berada pada jalur yang positif.