Indikator Kesejahteraan Petani Menguat: NTP Sumatera Utara November 2025 Naik 0,35 Persen

Sumut InfoMedan. Kabar gembira datang dari sektor pertanian Sumatera Utara (Sumut). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sumatera Utara pada November 2025 tercatat mengalami kenaikan signifikan, mengindikasikan perbaikan dalam kesejahteraan para pelaku usaha tani di wilayah tersebut.

Menggunakan tahun dasar 2018=100, NTP Sumut pada November 2025 mencapai 149,33. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,35 persen dibandingkan dengan NTP bulan sebelumnya, yaitu Oktober 2025, yang berada di posisi 148,81. Kenaikan NTP ini menjadi cerminan bahwa indeks harga yang diterima petani (It) naik lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang harus dibayar petani (Ib), yang mana menjadi indikator daya beli petani.

Pendorong Utama Kenaikan NTP: Empat Subsektor Tunjukkan Kekuatan

Kinerja positif NTP pada November 2025 didominasi oleh kenaikan solid di empat subsektor pertanian utama di Sumatera Utara. Para petani di subsektor-subsektor ini berhasil mencatat peningkatan nilai tukar yang cukup berarti, yang secara kolektif mendongkrak NTP Provinsi secara keseluruhan.

Berikut adalah rincian kenaikan di masing-masing subsektor:

  • Subsektor Perikanan: Menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 2,25 persen. Ini menunjukkan peningkatan harga jual hasil perikanan atau efisiensi biaya yang sangat baik bagi nelayan dan pembudidaya ikan.
  • Subsektor Tanaman Pangan: NTP pada subsektor ini naik sebesar 1,37 persen. Kenaikan ini umumnya didorong oleh membaiknya harga jual komoditas seperti padi dan palawija.
  • Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat: Petani perkebunan rakyat juga mencatatkan hasil positif dengan kenaikan NTP sebesar 0,88 persen. Subsektor ini vital bagi Sumut, mengingat komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan karet yang mendominasi.
  • Subsektor Peternakan: Kenaikan serupa juga terjadi pada subsektor peternakan, yang naik sebesar 0,88 persen. Peningkatan ini menandakan kondisi pasar yang menguntungkan bagi peternak, baik itu sapi, ayam, maupun komoditas ternak lainnya.

Kontraksi di Subsektor Hortikultura Menjadi Catatan Khusus

Meskipun sebagian besar subsektor menunjukkan performa impresif, tren sebaliknya justru terjadi pada Subsektor Tanaman Hortikultura. Berdasarkan data, NTP subsektor ini mengalami penurunan tajam sebesar 8,59 persen.

Penurunan drastis ini mengindikasikan bahwa para petani hortikultura, yang membudidayakan sayur-mayur, buah-buahan, dan tanaman hias, menghadapi tekanan yang signifikan. Faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari penurunan harga jual komoditas yang cepat rusak (volatile) hingga kenaikan biaya produksi seperti pupuk dan obat-obatan. Penurunan ini menjadi fokus yang perlu diperhatikan oleh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas pendapatan petani hortikultura di masa mendatang.

Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Sedikit Menurun

Di sisi lain, terdapat indikator yang sedikit berbeda pada Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Sumatera Utara. NTUP mencerminkan daya beli petani, tidak hanya untuk biaya produksi pertanian tetapi juga untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga mereka.

Pada November 2025, NTUP Sumut tercatat sebesar 150,87. Angka ini menunjukkan sedikit kontraksi atau penurunan sebesar 0,69 persen dibandingkan dengan NTUP bulan sebelumnya.

Penurunan NTUP, meskipun kenaikan NTP, dapat diartikan bahwa harga barang dan jasa yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga petani mengalami kenaikan yang lebih tinggi daripada kenaikan indeks harga yang mereka terima, terutama jika dibandingkan dengan total pengeluaran untuk usaha pertanian dan konsumsi rumah tangga.

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara

Kesimpulan: Secara umum, kenaikan NTP Sumatera Utara pada November 2025 merupakan sinyal positif bagi sektor pertanian, yang menunjukkan peningkatan daya tawar petani secara agregat. Namun, tantangan serius di subsektor Hortikultura dan sedikit tekanan pada daya beli kebutuhan rumah tangga (NTUP) menjadi area yang memerlukan perhatian dan intervensi kebijakan lebih lanjut agar pertumbuhan kesejahteraan petani dapat terjadi secara merata dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *