Sumut Info. Medan, Sumatera utara. — Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatat tingkat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 3,96 persen pada November 2025. Angka ini didasarkan pada perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 110,42.
Inflasi y-on-y ini mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam kurun waktu satu tahun, yakni dari November 2024 hingga November 2025. Kinerja inflasi ini menjadi indikator penting stabilitas harga dan daya beli masyarakat di wilayah Sumatera Utara.
Perbedaan Signifikan Inflasi Regional: Gunungsitoli Tertinggi, Karo Terendah
Meskipun inflasi Sumut secara agregat berada di angka 3,96 persen, terdapat disparitas yang cukup signifikan di antara kabupaten/kota yang disurvei di provinsi tersebut. Perbedaan ini menunjukkan tantangan logistik dan pasokan yang bervariasi di setiap wilayah.
Kota Gunungsitoli Mencatat Inflasi Tahunan Paling Tinggi
Kota Gunungsitoli menjadi daerah dengan tingkat inflasi y-on-y tertinggi di Sumatera Utara. Tercatat inflasi di kota tersebut mencapai 5,17 persen, dengan nilai IHK sebesar 111,50. Angka ini jauh melampaui rata-rata provinsi dan mengindikasikan tekanan harga yang paling kuat di wilayah tersebut, kemungkinan dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan atau biaya transportasi.
Kabupaten Karo Memiliki Inflasi Tahunan Paling Rendah
Sebaliknya, Kabupaten Karo berhasil mencatatkan kinerja inflasi tahunan terendah. Inflasi y-on-y di Kabupaten Karo hanya sebesar 2,34 persen, dengan IHK sebesar 109,68. Rendahnya angka inflasi ini bisa disebabkan oleh surplus panen komoditas lokal atau manajemen rantai pasokan yang lebih efektif dibandingkan daerah lain.
Analisis Deflasi Bulanan dan Inflasi Tahun Berjalan
Selain angka tahunan, data BPS juga merilis metrik bulanan dan tahun berjalan yang memberikan gambaran dinamis tentang pergerakan harga.
Terjadi Deflasi Bulanan Sebesar 0,42% (Month-to-Month)
Pada periode bulan ke bulan (month-to-month atau m-to-m), Provinsi Sumatera Utara justru mengalami deflasi sebesar 0,42 persen. Deflasi bulanan terjadi ketika terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen dari bulan sebelumnya (Oktober 2025 ke November 2025). Penurunan harga ini sering kali terjadi karena normalisasi harga pasca momentum tertentu atau melimpahnya pasokan di pasar, khususnya pada sektor pangan.
Inflasi Tahun Berjalan (Year-to-Date) Mencapai 2,96%
Sementara itu, tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) Sumatera Utara pada November 2025 tercatat sebesar 2,96 persen. Angka inflasi y-to-d ini mengukur akumulasi kenaikan harga sejak awal tahun (Januari 2025) hingga bulan pelaporan (November 2025). Dengan angka ini, laju kenaikan harga di Sumut masih berada di bawah batas inflasi tahunan 3,96 persen. Menunjukkan bahwa sebagian besar kenaikan harga terkonsentrasi pada paruh awal tahun atau beberapa bulan tertentu.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, data inflasi November 2025 menunjukkan bahwa stabilitas harga di Sumatera Utara menghadapi tantangan regional. Pemerintah daerah dan Bank Indonesia perlu fokus pada pengendalian harga di daerah dengan inflasi tinggi. Seperti Kota Gunungsitoli, sambil memanfaatkan momentum deflasi bulanan untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.