Sumatera Utara Tutup Tahun 2025 dengan Inflasi 4,66%, Kota Gunungsitoli Tertinggi!

Sumut Info. Medan, Sumatera utara. Menjelang pergantian tahun, Provinsi Sumatera Utara mencatatkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang cukup signifikan. Berdasarkan rilis terbaru BPS, inflasi year-on-year (y-on-y) Sumatera Utara pada Desember 2025 menyentuh angka 4,66 persen dengan IHK sebesar 112,25.

Angka ini menunjukkan peningkatan biaya hidup yang cukup terasa bagi masyarakat di penghujung tahun. Terutama dipicu oleh lonjakan harga di beberapa kelompok pengeluaran utama.

Gunungsitoli vs Karo: Ketimpangan Harga di Daerah

Fenomena menarik terjadi di tingkat kabupaten/kota. Kota Gunungsitoli menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi yang sangat mencolok, yakni mencapai 10,84 persen (IHK 119,24). Sebaliknya, Kabupaten Karo justru mencatatkan inflasi terendah di angka 3,15 persen (IHK 111,20).

Perbedaan yang tajam ini menunjukkan adanya tantangan distribusi atau dinamika pasar yang berbeda antara wilayah kepulauan dan wilayah sentra produksi pertanian.

Analisis Dasar: Apa Penyebab Utamanya?

Secara keseluruhan, inflasi Sumut didorong oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Berikut adalah tiga kontributor utama:

  1. Makanan, Minuman, dan Tembakau: Mengalami inflasi sebesar 8,44 persen. Komoditas seperti cabai merah, bawang merah, cabai rawit, dan beras menjadi penyumbang utama karena permintaan yang tinggi di musim libur akhir tahun.
  2. Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: Melonjak drastis hingga 14,83 persen. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan yang memberikan andil inflasi cukup besar, yakni 0,78 persen.
  3. Kesehatan dan Pendidikan: Kedua sektor ini juga konsisten merangkak naik masing-masing sebesar 3,15 persen dan 2,82 persen.

Menariknya, di tengah tren kenaikan harga, kelompok perlengkapan rumah tangga serta informasi dan komunikasi justru mengalami sedikit penurunan indeks (deflasi) masing-masing sebesar 0,28 persen dan 0,02 persen.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Sebagai konsumen dan pembaca, menyikapi angka inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 1,66 persen dan year-to-date (y-to-d) 4,66 persen ini memerlukan strategi keuangan yang bijak:

  • Pintar Mengatur Prioritas Belanja: Karena kelompok makanan menjadi penyumbang inflasi terbesar, mulailah beralih ke komoditas alternatif atau berbelanja di pasar tradisional yang seringkali lebih kompetitif saat harga cabai dan bawang melonjak.
  • Waspadai Investasi Emas: Kenaikan harga emas perhiasan yang signifikan menandakan nilai aset ini sedang tinggi. Jika Anda berencana membeli, perhatikan momentum harga pasar agar tidak terjebak di harga puncak.
  • Evaluasi Biaya Jasa: Dengan adanya inflasi di sektor kesehatan dan pendidikan (terutama perguruan tinggi), masyarakat perlu menyiapkan dana darurat atau asuransi kesehatan yang lebih terencana untuk masa depan.
  • Pantau Data Resmi: Tetap update informasi untuk mengetahui program pasar murah yang biasanya digelar guna menekan harga bahan pokok.

Kesimpulan Inflasi 4,66% adalah pengingat bagi kita semua untuk lebih cermat dalam mengelola pengeluaran rumah tangga. Meski tantangan ekonomi di tahun 2026 membayangi, pengelolaan finansial yang terukur akan membantu kita tetap bertahan di tengah fluktuasi harga pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *