Sumut Info – Batu Bara, November 2025. Pelabuhan Kuala Tanjung yang dirancang sebagai pilar akselerasi pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara, kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, proyek strategis ini dipuji memiliki potensi besar sekali dan lokasinya dinilai sudah tepat oleh pengamat. Di sisi lain, muncul keprihatinan atas layanannya yang masih sepi, bahkan dinilai “sia-sia besarnya investasi” oleh Ombudsman pada tahun 2023. Ironi ini terjadi meski infrastruktur pendukung utama terus dikebut. Per Juni 2024, Pelabuhan Kuala Tanjung telah terhubung dengan Tol Indrapura, yang diharapkan dapat meningkatkan arus barang.
Di atas kertas, Kuala Tanjung memiliki semua keunggulan. Berlokasi di Selat Malaka, pelabuhan ini memiliki perairan yang lebih dalam dibanding Pelabuhan Belawan, yakni sekitar 16 meter LWS. Kedalaman ini memungkinkannya melayani kapal-kapal kargo raksasa (hingga 100.000 DWT) untuk pelayaran direct call internasional, mengurangi ketergantungan pada pelabuhan di Singapura dan Malaysia. Potensi ini didukung oleh hinterland atau kawasan pendukung utama, yaitu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.
Konektivitas Baru, Masalah Lama
Sejak beroperasi secara efektif pada April 2018, pemerintah telah berupaya keras membangun konektivitas. Dibukanya Tol Indrapura-Kuala Tanjung dapat mempermudah truk logistik dari KEK Sei Mangkei dan sekitarnya untuk menuju pelabuhan. Rute dari KEK Sei Mangkei kini dapat melalui Jalan Lima Puluh Perdagangan – GT (Gerbang Tol) Lima Puluh – Indrapura – GT Kuala Tanjung – Jalan Akses Inalum – Pelabuhan Kuala Tanjung. Selain dibukanya Tol Indrapura-Kuala Tanjung, keberadaan rel kereta api yang menghubungkan KEK Sei Mangkei langsung ke Pelabuhan Kuala Tanjung juga dinilai menjadi game changer.
Namun, persoalan di Pelabuhan Kuala Tanjung tidak berhenti pada isu konektivitas semata. Meskipun tol dan rel sudah tersambung, sinkronisasi jadwal antara kereta api, kapal, dan truk dinilai belum matang. Akibatnya, biaya dan waktu logistik dari pabrik ke pelabuhan (door-to-port) masih belum kompetitif jika dibandingkan dengan Port Klang, Port of Singapore, atau bahkan Pelabuhan Belawan. Arus kargo dan jumlah kapal yang sandar (shipping calls) pun dilaporkan belum stabil.
Data perbandingan antara Kuala Tanjung dan Belawan berikut semakin menguatkan bahwa Belawan masih menjadi pilihan dominan untuk pelayaran internasional di Sumatera Utara.
- Pelayaran Kapal (Unit): Sepanjang 2022-2024, Belawan secara konsisten mencatat rata-rata di atas 100 unit kapal per bulan, sementara di Kuala Tanjung kurang dari 30 unit kapal per bulan. Meski ada proyeksi lonjakan menjadi diatas 50 unit di tahun 2025, angkanya masih jauh di bawah Belawan.
- Pelayaran Kapal (Gross Tonnage): Pola yang sama terlihat pada tonase kapal. Belawan melayani 1,49 juta hingga 1,78 juta GT per bulan, sementara Kuala Tanjung hanya di angka 220 ribu hingga 292 ribu GT.
- Aktivitas Muat Barang (Ton): Aktivitas ekspor (muat) di Belawan berkisar 273 ribu hingga 322 ribu ton per bulan, sementara Kuala Tanjung mencatat angka di rentang 91 ribu hingga 137 ribu ton.
Jalan Menuju Optimalisasi
Ada beberapa rekomendasi strategis yang dapat diusulkan untuk mengakselerasi potensi besar pelabuhan ini bagi Sumatera Utara. Pertama, membuat jadwal shuttle kereta api yang pasti antara KEK Sei Mangkei dan Kuala Tanjung. Kedua, perlunya menawarkan paket tarif bundel yang mencakup biaya kereta dan bongkar muat di pelabuhan untuk menarik pengguna layanan pelabuhan. Ketiga, menerapkan Port Community System (PCS) yang terintegrasi penuh. Sistem ini harus menghubungkan bea cukai, karantina, terminal, KAI, dan perusahaan truk untuk mempercepat proses clearance dan mengurangi antrian. Terakhir, mengadakan program pengembangan maskapai pelayaran (carrier development), seperti memberikan diskon tarif sandar atau THC dengan komitmen volume minimum. Hal ini bertujuan untuk membuka rute feeder mingguan yang rutin ke hub regional seperti Port of Singapore atau Port Klang. Tantangan bagi Pelabuhan Kuala Tanjung ada pada orkestrasi, sinkronisasi, dan efisiensi operasional. Sehingga dapat mewujudkan mimpinya sebagai gerbang logistik berkelas dunia di Kawasan Barat Indonesia.
Penulis: Sri Indriyani Siregar (Statistisi Ahli Pertama) – BPS Provinsi Sumatera Utara